Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Teori Revolusi Bumi

TEORI REVOLUSI BUMI - Pernahkah kalian melihat dan memperhatikan kalender masehi yang biasa kita gunakan sehari-hari? Lalu darimanakah perhitungan kalender masehi itu? Ya, perhitungan kalender masehi didasarkan rupakan dampak atau akibat dari adanya peristiwa revolusi bumi.

Jadi, apakah yang dinamakan revolusi bumi itu? Revolusi bumi adalah peredaran bumi mengelilingi matahari. Tidak hanya bumi yang mengelilingi matahari, namun planet-planet di dalam tata surya pun semuanya mengelilingi matahari, waktunya saja yang berbeda.

Tata surya merupakan kumpulan dari benda-benda langit yang berinteraksi satu sama lain dan memiliki pusat, yaitu matahari. Setiap planet berinteraksi dengan benda langit lainnya atau disebut dengan satelit. Jika planet berevolusi mengelilingi matahari maka satelit juga berevolusi, yaitu mengelilingi planetnya masing-masing.

Untuk itu kali ini kita akan membahas apa itu revolusi bumi dan apa saja dampak yang diakibatkan oleh peristiwa revolusi bumi.

 

teori-revolusi-bumi

Pengertian Revolusi Bumi

Revolusi Bumi adalah peredaran Bumi mengelilingi matahari. Revolusi Bumi merupakan akibat tarik menarik antara gaya gravitasi matahari dengan gaya gravitasi Bumi.

Kala revolusi Bumi dalam satu kali mengelilingi matahari adalah 365¼ hari. Sepanjang Bumi berevolusi, rotasi Bumi tidak selalu tegak lurus terhadap bidang ekliptika melainkan berosilasi dengan kemiringan yang membentuk sudut hingga 23,50 derajat terhadap matahari. Sudut ini diukur dari garis imajiner yang membelah kutub utara dan kutub selatan yang disebut dengan garis khatulistiwa.

Bumi mengelilingi matahari memiliki orbitnya sendiri, orbit ini berbentuk elips. Orbit adalah lintasan yang tetap dan teratur pada benda yang mengelilingi benda lainnya. Dalam revolusinya, bumi tidak akan bisa keluar jalur karena setiap planet memiliki orbitnya sendiri. Orbit itu juga salah satu penentu lamanya waktu untuk berevolusi. Semakin jauh dari matahari maka semakin lama planet berevolusi.

 

Dalam revolusinya, bumi juga menimbulkan dampak-dampak terhadap kehidupan di bumi. Berikut adalah dampak dari revolusi bumi.

 

Dampak dari revolusi bumi

1.    Perbedaan lama waktu siang dan malam

Dampak dari revolusi bumi yang pertama adalah perbedaan waktu dari siang dan malam. Siang dan malam pada bagian bumi utara dan selatan akan berbeda dengan bagian bumi di garis khatulistiwa. Pada bagian bumi tengah atau khatulistiwa ini memiliki waktu siang dan malam yang terbagi rata masing-masing 12 jam.

Kombinasi dari revolusi dan sumbu kemiringan bumi ini menimbulkan gejala alam pada frekuensi waktu siang dan malam. Semakin ke arah utara frekuensi waktu siang atau malam akan terasa lebih lama, bagian paling selatan juga merasakan hal itu.

Pada setiap tanggal tertentu, bumi mengalami kondisi sebagai berikut:

21 Maret - 23 September

  • Kutub Utara berada di dekat matahari, sedangkan Kutub Selatan jauh dari matahari.
  • Belahan bumi utara terpapar sinar matahari lebih lama dibandingkan dengan belahan bumi selatan.
  • Matahari bergeser ke arah utara bumi.
  • Jarak terdekat Kutub Utara dan matahari terjadi pada tanggal 21 Juni. Di tanggal tersebut, pengamat di khatulistiwa melihat matahari bergeser 23,5o ke arah utara.
  • Beberapa daerah dekat Kutub Utara mengalami siang selama 24 jam. Sementara itu, beberapa daerah dekat Kutub Selatan mengalami malam selama 24 jam. 

23 September - 21 Maret

  • Kutub Utara berada di dekat matahari, sedangkan Kutub Selatan jauh dari matahari.
  • Belahan bumi selatan mendapatkan sinar matahari lebih lama dibandingkan dengan belahan bumi utara.
  • Belahan bumi selatan mengalami siang yang lebih lama dibandingkan dengan belahan bumi utara.
  • Matahari bergeser ke arah selatan bumi.
  • Beberapa daerah dekat Kutub Utara mengalami waktu malam 24 jam, sementara beberapa daerah dekat Kutub Selatan mengalami siang selama 24 jam.
  • Pada tanggal 22 September, kutub selatan berada di posisi paling dekat dengan matahari. Pada tanggal tersebut, pengamat di khatulistiwa melihat matahari bergeser 23,5° ke arah selatan.

21 Maret - 23 Desember

  • Jarak matahari di Kutub Utara dengan Kutub Selatan adalah sama.
  • Belahan bumi utara dan belahan bumi selatan menerima sinar matahari sama banyaknya.
  • Seluruh permukaan bumi mengalami waktu siang dan malam sama lamanya.
  • Matahari terlihat melintas tepat di atas kepala di daerah khatulistiwa.

 

 

2.    Adanya perubahan musim

Dampak selanjutnya dari adanya Revolusi bumi adalah adanya pergantian musim dan perbedaan musim pada masing-masing belahan dunia. Pada belahan bumi bagian utara dan selatan memiliki empat musim yang berganti di setiap tahunnya yaitu musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. Namun berbeda pada belahan bumi yang dilewati garis khatulistiwa, pada bagian ini hanya memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.

 

Pergantian musim tersebut berdasarkan tanggal-tanggal tertentu. Pergantian musim pada bumi bagian utara dan selatan memiliki perbedaan karena tentunya matahari tidak dapat menyinari seluruh bagian bumi .

Berikut adalah penjelasan singkatnya mengenai perubahan musim saat revolusi bumi.

Bumi bagian utara:

·       Musim semi (21 Maret – 21 Juni)

·       Musim panas (21 Juni – 23 September)

·       Musim gugur (23 September – 22 Desember)

·       Musim dingin (22 Desember – 21 Maret)

 

Bumi bagian selatan:

·       Musim semi (23 September – 22 Desember)

·       Musim panas (22 Desember – 21 Maret)

·       Musim gugur (21 Maret – 21 Juni)

·       Musim dingin (21 Juni – 23 September)

Sedangkan pergantian musim dibelahan bumi yang dilewati garis khatulistiwa salah satunya adalah Indonesia, pergantian musim antara musim hujan dan musim kemarau adalah sebagai berikut:

Berlangsungnya musim kemarau di Indonesia bersamaan dengan bertiupnya angin musim timur dan terjadi antara bulan Maret-September. Namun pada bulan Maret dan September, ada kemungkinan hujan tetap turun karena gerakan angin yang tidak menentu. Musim kemarau di Indonesia kebanyakan berlangsung antara bulan April sampai bulan September. Ketika musim kemarau berlangsung, kelembaban udara cenderung sangat rendah. 

Musim hujan di Indonesia terjadi karena bertiupnya angin musim barat dan terjadi antara bulan September dan bulan Maret. Musim hujan di Indonesia berlangsung antara bulan Oktober sampai bulan Febuari. Di beberapa wilayah sering kali hujannya sedemikian lebat hingga terjadi banjir.

 

3.    Gerak semu tahunan matahari

Gerak semu tahunan matahari adalah pergerakan semu matahari yang seolah-olah bergerak dari selatan ke utara dan kembali ke selatan setiap tahunnya. Gerak semu tahunan matahari inilah yang melatar belakangi perubahan musim dan perbedaan lama waktu siang dan malam yang ada di bumi. Semua fenomena yang terjadi itu karena posisi matahari yang berubah-ubah setiap bulan.

Fenomena ini menyebabkan matahari tidak terbit dan terbenam di posisi yang sama sepanjang tahun (bergeser dari utara ke selatan atau sebaliknya dari hari ke hari) serta pergantian musim di belahan Bumi utara dan selatan. Saat bagian utara Bumi condong ke matahari, bagian tersebut mendapat sinar lebih banyak dan siang lebih panjang sehingga terjadi musim panas di negeri empat musim. Sebaliknya, pada saat yang sama, terjadi musim dingin di bagian selatan Bumi.

 

4.    Ditetapkannya Kalender Masehi

Kalender masehi ini awal mulanya digunakan oleh Julius Caesar atau dikenal dengan kalender Julian. Kalender Julian ini dihitung berdasarkan selang waktu antara musim semi dengan musim semi berikutnya di bagian bumi utara. Selang waktu ini tepatnya 365 hari, 5 jam, 48 menit, 46 detik.

Dalam hitungannya kemudian Julius Caesar ini menetapkan perhitungan kalender masehi seperti berikut:

·         Waktu dalam setahun adalah 365 hari,  dan sehari 24 jam.

·         Karena 365 hari itu lebih seperempat hari setiap tahunnya maka melebihi satu hari setiap empat tahun menjadi 366 hari. Logikanya seperti ¼ dikali 4 yang hasilnya 1. Tahun yang memiliki 366 hari ini disebut tahun kabisat. Biasanya terjadi pada bulan Februari.

·         Untuk mengingat dengan mudah maka tahun kabisat adalah tahun yang dapat dibagi habis dengan empat seperti, 2000, 2004, 2008, dan seterusnya.

 

5.    Perubahan Rasi Bintang

Rasi bintang adalah sekelompok bintang yang membentuk pola tertentu. Sebenarnya rasi bintang yang kita lihat itu jaraknya tidak berdekatan satu sama lain. Letak antara satu bintang dengan yang lain berjauhan, ketika kita mengamati dari bumi tampak berdekatan dan tersusun polanya.

 

Karena revolusi bumi ini rasi bintang pada setiap bagian bumi akan terlihat berbeda. Bumi bagian utara hanya dapat melihat rasi bintang yang ada di utara, bumi bagian selatan hanya dapat melihat rasi bintang yang ada di selatan, begitu juga bagian bumi yang lain.